Dr. Jill Biden, yang kelak menjadi Ibu Negeri Amerika, akhirnya angkat bicara atas editorial di surat kabar Wall Street Journal yang memintanya menjatuhkan gelar doktor yang ada di depan namanya karena dinilai “terdengar dan terasa menipu. ”

“Saya sangat kaget, ” ujar Jill dalam wawancara dengan komedian Stephen Colbert yang diudarakan pada Kamis (17/12) malam. “Nadanya benar-benar… Ia (Epstein. red) membicarakan saya ‘kiddo’ (nak. red). Lupa satu hal yang paling hamba banggakan adalah gelar doktor kami itu. Maksud saya, saya berjalan keras untuk meraihnya, ” ujar Jill.

Surat kabar Wall Streeet Journal pada 11 Desember lalu mempublikasikan editorial berjudul “Is There a Doctor in the White House? Not if You Need an MD. ” Joseph Epstein, penulis editorial itu, memulai paragraf pertama secara mengatakan “Madam Ibu Negara, Nyonya Biden – Jill – kiddo: sedikit nasihat yang mungkin tampaknya kecil, tapi bukannya tidak istimewa. Mungkinkan Anda mencopot gelar “Dr” di depan nama Anda? “Dr. Jill Biden” terdengar dan terasa menipu, bahkan seperti komik. ”

Lebih jauh Epstein mengatakan “gelar pascasarjana tidak sedang memiliki bobot seperti dulu, ” dan menyebut disertasi Jill sebagai hal yang “tidak menjanjikan. ”

Sejumlah Hawa Membela Jill Biden

Editorial itu langsung memicu kritik tajam dari sejumlah perempuan di Amerika, termasuk mantan ibu negara Michelle Obama.

“Selama delapan tahun saya tahu Dr. Jill Biden melakukan barang apa yang dilakukan banyak perempuan cakap, berhasil mengelola lebih dari mulia tanggung jawab pada satu waktu bersamaan. Mulai dari tugas mengajar hingga kewajiban resmi di Gedung Putih, dan perannya sebagai ibu, istri dan teman, ” tulis Michelle di akun Instagramnya di 13 Desember.

Michelle menggarisbawahi pernyataannya dengan “dan saat ini kita semua melihat hal dengan terjadi pada begitu banyak perempuan profesional, apakah gelar mereka Dr., nona, atau nyonya, atau bahkan Ibu Negara: terlalu sering perolehan kami diragukan, bahkan dicemooh. Awak diragukan oleh mereka yang memutuskan untuk mengejek kelemahan dibanding menghormati kekuatan kami… setelah bekerja semasa puluhan tahun, kami terpaksa kudu membuktikan diri kami lagi. ”

Mantan ibu negara lainnya, yang serupa mantan calon presiden Partai Demokrat, Hillary Clinton membalas dengan tinjauan pedas: “namanya Dr. Jill Biden. Biasakanlah. ”

Suami wakil presiden terpilih Kamala Harris, Douglas Emhoff, mencuit di Twiter, “Dr. Biden mengambil gelarnya lewat kerja keras dan ketabahan. Ia adalah inspirasi untuk saya, siswa-siswanya dan bagi karakter Amerika di seluruh negara ini. Editorial ini tidak akan ditulis jika yang melakukannya adalah seorang laki-laki.

Sementara Direktur Komunikasi Ibu Negara, Elizabeth Alexander, mencuit pada Twitter “seksis dan memalukan” menunjuk pada editorial di surat kabar itu.

Namun, editor halaman editorial Wall Street Journal, Paul A. Gigot membela tulisan Epstein itu dan mengecam balik reaksi yang disebutnya sebagai “tanggapan terkoordinasi” terhadap “isu yang relatif minor. ”

Pengamat: Perempuan Masih Dipandang ‘Less Than A Person’

Pengamat studi gender yang sedang menempuh pendidikan doktoral di State University of New York, Yuyun Sri Wahyuni, mengatakan tidak hal baru jika isu-isu rani selalu dipandang sebagai isu rendah, kurang krusial dan bukan pengutamaan.


Yuyun Sri Wahyuni. (Foto: pribadi)

Cara tatapan itu, menurut Yuyun, akan berpengaruh pada cara mengambil kebijakan ataupun bahkan kebijakan yang dihasilkan untuk orang banyak, khususnya perempuan.

“Perempuan seringkali dipandang jadi less than a person dan masalah ini masih terus terulang sekalipun perjuangan kesetaraan gender di Amerika sudah berlangsung jauh lebih lama dibanding di negara-negara lain, ” papar Yuyun.

Mantan komisioner Komnas Perempuan, Yuniyanti Chuzaifah, melihat fenomena editorial dengan mempersoalkan gelar doktor Jill Biden ini lagi-lagi menunjukkan wajah maskulinitas atau patriarki yang masih mengakar dalam.

“Ini tidak soal negara sudah maju atau masih berkembang, ini soal apresiasi. Bahkan persepsi ini tidak cuma ada dalam pola pikir sebagian laki-laki, tetapi juga perempuan, ” kata Yuniyanti.

“Soal patriarki, misoginis , dan lain-lain, ini kan perkara sistem kesadaran yang tidak selalu melekat pada laki-laki. Jadi seseorang yang secara fisik perempuan, bisa jadi sistem kesadarannya justru maskulin serta bahkan misoginis , ” imbuhnya.

Di Indonesia, Foto Ibu Negara Jadi Simbolisasi Kritik KKN

Pendapat ini tepat jika dikaitkan dengan pertimbangan tajam terhadap Ibu Negara Iriana Joko Widodo dan kedua anak-menantunya pasca pemilihan kepala daerah (pilkada) pada 9 Desember lalu.

Foto lama Iriana bersama putrinya Kahiyang Rupawan dan menantunya Selvi Ananda yang diambil awal Januari 2020 lalu, dimunculkan kembali sebagai protes terulangnya kembali korupsi-kolusi-nepotisme (KKN) dalam dunia politik Indonesia.

Protes ini muncul setelah putra pertama Jokowi-Iriana, Gibran Rakabuming Raka, mengambil suara terbanyak di pilkada Tunggal, sementara menantu mereka, Bobby Nasution, meraih suara terbanyak di pilkada Medan. Foto itu seakan menjadi symbol KKN. Ironisnya sebagian pengecam justru perempuan.


Yuniyanti Chuzaifah, mantan komisioner Komnas Perempuan. (Foto: VOA/Petrus Riski)

“Kita harus cermat dan hati-hati, jangan sampai kemarahan kita terhadap KKN diwajahi atau disimbolisasi dengan hawa semata, sementara aktornya sendiri, presiden, anak dan menantu yang keduanya sama-sama wali kota malah damai, ” papar Yuniyanti.

“Tentu saja perempuan tak bisa dianggap sebagai malaikat yang bersih yaa, dalam arti rani juga bisa menjadi pelaku KKN. Tapi kita harus cermat buat tidak menjadikan perempuan sebagai pseudo-victim atau second-victim dari KKN yang sesungguhnya, ” imbuhnya.

Serangan terhadap perempuan dalam dua urusan tadi merepresentasikan ketidakadilan yang begitu lama, mengakar dan belum siap.

“Dalam kacamata feminisme global, terlihat bahwa perjuangan perempuan di Amerika sama menantangnya secara perjuangan perempuan di tempat asing, sehingga diperlukan solidaritas bersama, tercatat menghadapi tantangan patriarki dan misogini, ” ujar Sri Wahyuni. Kejadian yang lagi-lagi menunjukkan masih panjangnya perjuangan kaum perempuan di negeri. [em/ft]