PBB menyatakan konflik di Afghanistan telah menewaskan dan mencederai hampir 6. 000 warga sipil di sembilan bulan pertama tahun 2020, mewakili penurunan 30 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Laporan dengan dikumpulkan oleh Misi Bantuan PBB di Afghanistan (UNAMA) ini menyembul sementara perundingan perdamaian langsung antara pihak-pihak yang berperang di Afghanistan sedang berlangsung di Qatar sejak 12 September, meskipun tanpa tersedia kemajuan.

Hanya beberapa jam setelah badan dunia itu merilis temuan-temuannya pada hari Selasa, sebuah bom meledak di Kabul, ibu kota Afghanistan, menewaskan setidaknya tiga warga sipil dan melukai 10 lainnya.

UNAMA telah mendokumentasikan 2. 117 janji warga sipil dan 3. 822 orang cedera dari 1 Januari hingga 30 September, seraya membuktikan negara yang dicabik-cabik perang itu masih termasuk di antara tempat-tempat paling berbahaya di dunia untuk seorang warga sipil.

Korban anak-anak dalam periode itu merupakan 31 persen dari mutlak korban warga sipil, sedangkan korban perempuan 13 persen.

“Meskipun jumlah korban sipil dengan didokumentasikan ini adalah yang paling rendah dalam sembilan bulan baru dalam tahun berapa pun sejak 2012, kerusakan yang dilakukan terhadap warga sipil masih banyak seluruhnya dan mengejutkan, ” sebut masukan itu.

UNAMA menyimpan bulan yang akan segera berlalu ini tidak masuk laporan, namun serangan-serangan di medan tempur yang meningkat, sebuah serangan bom pati padam diri dan satu serangan pemerintah Afghanistan secara bersama-sama telah menewaskan dan mencederai lebih dari 400 warga sipil sejak 1 Oktober.

Laporan itu mengeluh karena proses perdamaian Afghanistan dengan masih berlangsung telah gagal memperlambat jatuhnya korban warga sipil. “Pembicaraan perdamaian akan memerlukan waktu buat membantu mewujudkan perdamaian. Tetapi semua pihak dapat dengan segera mendahulukan diskusi dan mengambil langkah-langkah bunga yang mendesak dan terus nyata terlambat, untuk menyingkirkan kerugian terhadap warga sipil, ” kata Deborah Lyons, pemimpin UNAMA di Kabul.

Menurut laporan PBB, pemberontakan Taliban dan pasukan antipemerintah lainnya menyebabkan 58 persen korban warga sipil.

Taliban bertanggung jawab atas 45 tip dari seluruh korban. Namun, ucap UNAMA, jumlah warga sipil akibat serangan Taliban turun 32 persen.

Juru bicara Taliban Zabiullah Mujahid menolak temuan-temuan PBB yang disebut sebagai propaganda, secara mengatakan temuan itu dilandaskan di dalam laporan tak berdasar yang dibagi oleh lembaga-lembaga keamanan dan intelijen dengan badan dunia itu. [uh/ab]