Gerak laku Unjuk Rasa Tolak UU Membangun Kerja di Palu, 29 Ditangkap

Unjuk rasa menolak Undang-Undang Membuat Kerja yang digelar ratusan mahasiswa di kota Palu, Sulawesi Pusat, Kamis siang (8/10) diwarnai friksi dengan aparat keamanan. Awal mulanya, ratusan mahasiswa itu meminta buat diizinkan melakukan orasi di aliran gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Sulawesi Tengah di jalan Jenderal Sudirman, tapi tidak diizinkan sebab aparat kepolisian.

Penjaga menawarkan dua pilihan, yakni pihak DPRD Sulteng mendatangi massa ataupun mahasiswa mengirimkan perwakilan untuk memberikan aspirasi ke gedung DPRD. Kedua opsi itu ditolak mahasiswa.

Tidak ada titik temu, sekitar pukul 12. 30 WITA mahasiswa memaksa untuk menembus barikade kawat berduri. Lemparan batu pula terjadi Polisi berusaha menghentikan aktivitas mereka dengan menembakan gas cairan mata dan semprotan air ke arah kerumunan mahasiswa. Karena tiupan angin kencang, tembakan gas tirta mata berbalik arah dan bahkan mengenai polisi dan wartawan dengan meliput kejadian. Sejumlah wartawan berhamburan menghindari asap yang memerihkan tanda dan menyulitkan bernafas.

Komisaris Polisi Sugeng Lestari, Besar Sub Bidang Penerangan Masyarakat Dunia Humas Polda Sulawesi Tengah mencuaikan pesan singkat yang dikirimkan pada VOA mengatakan 11 mahasiswa, 10 Polisi dan lima warga umum mendapatkan pertolongan di Rumah Kecil Bhayangkara Polda Sulawesi Tengah sebab luka lemparan batu dan udara air mata. Pihaknya juga mengamankan 29 orang, yang terdiri dari 28 mahasiswa dan seorang warga biasa.

Rifaldi (21), salah seorang mahasiswa dari Universitas Tadulako yang ikut berunjuk menikmati hari itu menilai tindakan kekerasan aparat kepolisian menghadapi aksi mahasiswa berlebihan. Dia mengatakan meskipun mahasiswa sudah mundur, tapi aparat tetap mengejar dan memukuli mereka.

“Jujur pak, kami memperoleh begitu banyak tindakan represif daripada aparat yang berwenang disitu, bahkan menurut saya sudah tidak manusiawi ketika manusia itu dipukul dekat seperti binatang, tidak lagi melihat laki-laki, perempuan, ” keluh Rifaldi. “Kami diserang dengan gas minuman mata, kemudian dikejar ke titik-titik evakuasi bahkan dipukuli hingga berbakat. ”


Mobil water canon Polda Sulawesi Tengah meniupkan air untuk membubarkan kerumunan mahasiswa yang sedang melakukan pelemparan kurang ajar kearah petugas dalam aksi muncul rasa penolakan UU Cipta Kerja, Kamis, 8 Oktober 2020. (Foto: VOA/Yoanes Litha)

Rifaldi menerangkan lagak hari itu merupakan penolakan kuat mahasiswa di kota Palu akan pengesahan UU Cipta Kerja dengan dinilai tidak berpihak kepada asosiasi kecil. Dia berharap pemerintah menanggalkan undang-undang kontroversial itu.

Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Wilayah Sulawesi Tengah, Nilam Sari Lawira, menyayangkan aksi demonstrasi menolak UU Cipta Kerja oleh mahasiswa berakhir bentrok dengan aparat keamanan. Pihaknya bersedia menerima 10 hingga 15 orang perwakilan mahasiswa untuk mengirimkan aspirasi di gedung DPRD Sulteng dengan memperhatikan protokol kesehatan.

“Harusnya dengan diterima tadi itukan perwakilan serta kami sudah siap menerima saja karena berakhir seperti itu sungguh tentu secara keamanan tidak mampu kami hindari hal-hal yang seperti begitu, makanya saya sangat menyayangkan saja ada kejadian seperti tadi, ” kata Nilam.

Nilam berharap aksi-aksi demonstrasi dikerjakan dengan baik, mempertimbangkan situasi pandemi COVID-19 dengan tingkat penularan dengan terus bertambah setiap harinya pada kota Palu.

Jurnalis Jadi Korban Penganiayaan Negara

Alsih Marselina wartawati dari media sultengnews. com mengaku menjadi korban pemukulan sebab oknum aparat kepolisian yang mengira dirinya adalah bagian dari ikatan mahasiswa yang sedang berunjuk rasa.

“Kita orang sudah mengaku dari media, langsung dipukul sudah, dipukul kena mataku. Begitu ceritanya. Saya tidak lihat siapa yang memukul saya karena sudah pusing, tidak mampu saya tahu orang, ” kata Alsih kepada wartawan di Palu.

Muhammad Iqbal ketua Aliansi Pewarta Independen Kota Palu menyatakan akan melaporkan peristiwa pemukulan terhadap wartawan itu ke Polda Sulawesi Sedang.

Selain di Palu, aksi demonstrasi mahasiswa menolak undang-undang Cipta Kerja juga terjadi dalam Kabupaten Toli-toli, Banggai dan Kabupaten Poso. [yl/ab]

depresseddingof9e640ac

https://urlking.info