Jawa Tengah Hadapi Tantangan Besar Tekan Stunting

Jawa Tengah, seperti juga sejumlah daerah lain di Indonesia, masih bertemu tantangan besar dalam menekan kejadian stunting anak. Pandemi virus corona dalam enam bulan terakhir memperberat upaya itu, antara lain sebab munculnya kekhawatiran akan bahaya virus corona terhadap ibu dan balita sewaktu mengakses layanan kesehatan. Pada luar corona, menurut Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, pernikahan dini menjadi penyebab yang sulit diatasi sejak lama.

Membalas mengaku memperoleh sejumlah laporan lantaran daerah mengenai upaya para orang tua meminta dispensasi menikah. Ijin itu dibutuhkan bagi mereka yang mau menikah tetapi belum mencapai leler sesuai syarat resmi. Pendidikan serta penyadaran kepada masyarakat terus dilakukan, tetapi menurut Ganjar, upaya ke birokrasi juga tidak bisa diabaikan.

“Kementerian Agama juga sudah kita ajak bicara, agar jangan dikasih toleransi dulu, agar kemudian kesehatan reproduksinya ini banget kita edukasi. Kita siapkan mereka agar sangat paham pada perkara ini, ” kata Ganjar.


Gubernur Jawa Tengah, Membalas Pranowo. (Foto: screenshot)

Persoalan stunting ini dibahas khusus pada permufakatan bertajuk “Respon Pemerintah dalam Upaya Percepatan Penurunan Stunting Pasca Pandemi Covid-19 di Jawa Tengah”. Permufakatan diselenggarakan Puslitkes LPPM Universitas Diponegoro Semarang, dengan dukungan UNICEF pada Selasa (22/9).

Stunting adalah gangguan pertumbuhan pada bani. Penderita gangguan ini memiliki tinggi badan yang lebih pendek atau kerdil berdasarkan standar usianya. Situasi serius ini terjadi, karena budak tidak mendapatkan asupan bergizi di dalam jumlah yang tepat, dalam periode yang lama atau kronik. Secara nasional, stunting berkontribusi terhadap 15-17 persen dari total kematian budak.

Ganjar memaparkan, data di Jawa Tengah hingga Februari 2020, ada 156. 549 balita mengalami stunting. Bukti itu merupakan hasil rekap anak berdasarkan status gizi, dari pengukuran terhadap 1. 074. 641 balita di Jawa Tengah.

Penyebab Stunting Beragam


Gambaran Anak Biasa dan Anak Stunting, Foto cropping dari Buku 100 Kabupaten/Kota Pengutamaan untuk Intervensi Anak Kerdil (Stunting) VOLUME 3 oleh TNP2K. (Foto: VOA/Yoanes Litha)

Penyebab dominan dalam kasus Jawa Tengah, lanjut Membalas adalah kurangnya pengetahuan tentang kesehatan tubuh dan gizi sebelum dan dalam masa kehamilan. Selain itu, 60 persen anak usia 0-6 kamar tidak mendapatkan ASI eksklusif & 2 dari 3 anak piawai 0-24 bulan tidak menerima sasaran pengganti ASI.

Sejak sisi ibu, diketahui bahwa 1 dari 3 ibu hamil dalam Jawa Tengah mengalami anemia dan kurang mampu mengakses makanan bergizi. Intervensi sudah dilakukan, antara lain dengan pemberian secara rutin suplemen sejak remaja untuk mengatasi anemia. Sedangkan akses terhadap makanan bergizi dipermudah dengan intervensi langsung pemerintah. Provinsi ini juga memiliki agenda khusus bernama “Jateng Gayeng Nginceng Wong Meteng”, yang bermakna Jawa Tengah memberi perhatian khusus kepada ibu hamil.

Problem lain, kata Ganjar, terpaut dunia

“Kurangnya akses ke air bersih dan sanitasi. Dimana satu dari lima keluarga masih buang air mulia di ruang terbuka. Juga mulia dari tiga rumah tangga belum memiliki akses ke air minum bersih, ini tanggungan pemerintah, ” tambah Ganjar.


Pengajar dan peneliti dari Fakultas Kedokteran Undip, Semarang, Nuryanto. (Foto: screenshot)

Kaitan antara pernikahan dini serta kasus stunting di Jawa Tengah juga menjadi bahan penelitian Nuryanto, dosen dan peneliti dari Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro, Semarang. Tempat mengelompokkan pernikahan dini di piawai antara 14-15 tahun dan 16-17 tahun, kemudian membandingkan kasus stunting pada balita di kedua ikatan itu.

“Hasil analisis kami, di salah satu kabupaten pada Jawa Tengah, ternyata Ibu yang menikah pada usia lebih dini yaitu 14-15 tahun dibanding 16-17 tahun itu terjadinya stunting lebih tinggi pada ibu yang menikah dini, ” kata Nuryanto.

Dirinci oleh Nuryanto, di dalam kelompok pernikahan dini usia 14-15 tahun, ada kasus stunting sebanyak 43, 5 persen. Sedangkan dalam kelompok kedua, yaitu mereka dengan menikah pada usia 16-17 tarikh, angka stunting tercatat 22, 4 persen.

Kasus stunting juga didorong oleh pemberian makanan pengganti ASI yang kekurangan zat putih telur, seperti ikan atau telur. Banyak ibu yang memberi makan kepada balita dengan sayur bayam, namun hanya nasi dan kuahnya dengan akhirnya dikonsumsi. Kasus-kasus semacam tersebut banyak sekali terjadi, sehingga stunting sulit diatasi.

Pemberian ASI eksklusif sesuai standar selalu rendah di Jawa Tengah. Provinsi ini memiliki 29 kabupaten dan enam kota, tetapi hanya utama kabupaten saja yang pemberian ASI eksklusif ada di atas 50 persen. Dari penelitian, kata Nuryanto, terbukti pada kabupaten yang mas ASI lebih dari 50 upah, yaitu Banjarnegara, angka stuntingnya memutar rendah.

Pestisida Memberi Dampak

Penelitian dari tim Fakultas Kesehatan tubuh Masyarakat, Universitas Diponegoro juga menjumpai fakta, bahwa stunting dipengaruhi sebab paparan pestisida pada petani.

Selama ini, faktor dunia terhadap gangguan tumbuh-kembang anak hanya dikaitkan dengan infeksi, terutama infeksi saluran cerna atau diare & infeksi saluran pernafasan (Ispa). Akibatnya, program pengendalian dari aspek dunia hanya fokus pada perbaikan sanitasi lingkungan.

Padahal, pajanan atau eksposur bahan toksik di lingkungan dalam dosis sedikit namun jangka panjang juga berpengaruh negatif.


Dosen serta peneliti dari Fakutlas Kesehatan Kelompok, Undip, Semarang, Suhartono. (Foto: screenshot)

“Selain masalah asupan zat gizi yang kurang dan infeksi, pajanan bahan toksik dari lingkungan jarang lain pestisida, patut diduga jadi ‘penyebab’ atau faktor risiko kejadian stunting, ” kata Suhartono, menggantikan tim peneliti Undip.

Penelitian yang dilakukan di Kabupaten Brebes memberikan bukti. Brebes merupakan daerah pertanian bawang merah dengan tingkat penggunaan pestisida tertinggi pada Indonesia. Angka kejadian stunting pada Brebes mencapai 40, 7 obat jerih, dan merupakan yang tertinggi pada Jawa Tengah menurut Riskesdas 2013.

Data menyebutkan pajanan pestisida dapat mengganggu fungsi hormon yang berperan dalam pertumbuhan. Perempuan yang memiliki riwayat pajanan pestisida, mempunyai risiko 3, 3 kali lipat menderita hipotiroidisme. Kasus ini menyebabkan janin akan mengalami usikan pertumbuhan.

Sementara tersebut, anak dengan riwayat pajanan pestisida mempunyai risiko 6, 8 kali lebih besar menderita gondok dan 3, 9 kali lipat bertambah besar kemungkinannya mengalami stunting.

Dikatakan Suhartono, pajanan pestisida dapat menyebabkan stunting karena merembes ke dalam tubuh melalui kulit, saluran pernafasan, maupun mulut. Dampak lanjutannya, muncul gangguan terhadap kegiatan hormon pertumbuhan, dan terjadi stres oksidatif. Akan terjadi gangguan penyerapan bahan makanan di saluran cerna dan berlanjut pada gangguan pertumbuhan atau stunting. [ns/ab]

depresseddingof9e640ac

https://urlking.info