Kawin Paksa: Janji Terucap karena Tuntutan Adat

Dua muda — S, 15 tahun dan NH, 12 tahun — di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) akhir pekan lalu menikah. Orang tua NH yang tinggal di Dusun Montong Praje, Desa Pengenjek, Kecamatan Pringgarata, Lombok Tengah, NTB sedang memegang kuat adat Suku Sasak. Jika anaknya diajak pergi datang malam oleh seorang pria, maka pernikahan harus segera dilaksanakan.

Memang tidak semua masih memegang prinsip itu. Ketua Badan Permusyawatan Desa (BPD) Pengenjek, Herman kepada VOA menyebut cuma tinggal sedikit warganya yang fanatik pada aturan adat.

“Bisa kita kategorikan, masih ada yang masih memegang, ada yang tidak memegang adat teristimewa. Dalam kasus ini, orang tuanya bisa dikategorikan yang masih menyimpan adat, jadi yang bawa pulang enggak dikasih pulang kalau suangi. Karena adat, jadinya mau tidak mau pihak laki-laki tidak mampu mengelak, ” kata Herman.

Maksud pernyataan Herman, yang membawa pulang tidak dikasih pulang, adalah jika anak pria mengantar pulang anak gadis terlalu malam, maka dia akan dipaksa menikah oleh orang tua gadis. Ada kesempatan untuk menolak tuntutan itu, tetapi keluarga laki-laki lazimnya menerima karena enggan disebut tak bertanggung jawab.

Menikah Demi Nama Tertib

Kisah perut remaja ini cukup unik, taat pengakuan NH, kedekatan mereka segar berjalan empat hari. Mereka bersemuka pada Rabu (9/9) dan kabur bersama ke salah satu wadah wisata di Lombok Tengah. Kira-kira pukul 19. 30 WITA, keduanya pulang dan tentu saja S mengantar sang gadis ke rumahnya. Ayah NH memandang kepulangan tersebut terlalu malam, dan karena itu pernikahan harus segera dilakukan. Bagi warga yang kuat memegang adat, jika tidak segera menikah, tanda baik sang gadis dan keluarganya akan tercoreng.

Sentak ulur terjadi, karena keluarga S meminta pernikahan tidak dilakukan secepat itu. Namun adat mengalahkan seluruh alasan. Pernikahan keduanya tetap digelar pada Sabtu (12/9). Dalam rekaman video yang tersebar di jalan sosial, S yang memakai jas hitam duduk disamping NH dengan gaun pengantin warna karamel. Itu dinikahkan seorang pemuka agama.

Seingat Herman, pernikahan anak di lingkungan desanya perdana ini terjadi. Biasanya, mereka menunggu hingga lulus SLTA. Kasus itu, lanjut Herman, akan menjadi sasaran pembicaraan di tingkat desa. Dia ingin ada peraturan desa dengan mampu menekan angka pernikahan budak.

“Sejauh itu kami masih dalam rancangan. Kemarin baru kami bahas soal pembelian ambulans desa, sampah, dan perluasan wisata. Tapi isu ini sebelumnya sudah kami sering bahas serupa dengan tokoh dan pemerhati pelajaran. Jadi, ini sebenarnya sudah mengarah kesana, ” tambah Herman.

Pengenjek adalah pedesaan di Lombok Sedang yang bertumpu pada sektor pertanian. Pengolahan ijuk, industri kerupuk, bakir besi, dan perikanan menjadi cara sampingan. Karena faktor ekonomi & kesadaran, pendidikan tinggi masih ada di luar jangkauan anak bujang disana. Namun, kata Herman, di dalam lima tahun terakhir sudah ada generasi muda Pengenjek yang menjelma sarjana. Mereka yang fanatik di adat terkait pemaksaan perkawinan itu, kata Herman setidaknya ada besar kelompok, yaitu warga lanjut piawai atau yang tidak berpendidikan.

Data Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Nusa Tenggara Barat mencatat jumlah perkawinan bujang hingga saat ini setidaknya 148 kasus. Kabupaten Lombok Tengah memiliki angka tertinggi, dalam sebuah studi yang dilakukan terhadap 131 sekolah di NTB dengan 48 perkawinan anak. Disusul kemudian Lombok Timur dengan 33 perkawinan, Lombok Barat 20 perkawinan, 17 di Kabupaten Bima, 11 kasus di Sumbawa, 9 kasus di Mataram, dua di Kota Bima dan Dompu, dan satu di Sumbawa Barat.


Acara perkawinan seorang anak perempuan di Lombok, NTB. (Courtesy: Armin Hari)

Kawin Tangkap di Sumba

Pemaksaan perkawinan arah dasar aturan adat sampai era ini masih kerap terjadi, tak hanya di Lombok tetapi juga di gugusan pulau Nusa Tenggara yang lain hingga ke Sumba di Nusa Tenggara Timur. Tersedia istilah kawin culik di Lombok Timur, sedangkan di Sumba lumrah sebagai kawin tangkap. Semua tersebut berinti pada pernikahan paksa yang digelar atas tuntutan adat.

Di Sumba, konvensi pemaksaan perkawinan juga ada di bentuk yang berbeda. Unsur kekerasan dari laki-laki hadir dalam adat yang populer sebagai kawin tangkap. Dalam sejumlah praktiknya, menurut Resi Aprissa L. Taranau, kawin mengambil terjadi ketika seorang laki-laki menangkap, dan bahkan bisa bermakna menculik perempuan untuk dijadikan istrinya secara paksa.

Aprissa adalah Ketua Persekutuan Perempuan Cendekia Teologi dan tinggal di Sumba. Setiap hari, dia mengambil penghampiran keagamaan untuk mengikis praktik berbaur tangkap ini.


Perkawinan anak di Indonesia. (Foto: Courtesy/Armin Hari)

“Sangat berlapis perjuangan kami disini, karena bukan selalu berhadapan dengan kekerasan seksual itu sendiri, tetapi karena diatasnamakan sebagai tradisi, adat atau budaya jadi sangat sulit dihilangkan, ” sirih Aprissa.

Secara adat, kata Aprissa, konteks kawin mengambil adalah pernikahan yang dilakukan minus proses melamar. Dari berbagai sumber tertulis, lanjutnya, budaya ini dasar ada di Sumba. Sayangnya, tradisi ini diterjemahkan dalam bahasa Nusantara sebagai kawin tangkap. Di kelompok, khususnya anak muda, kemudian menjelma pemahaman bahwa tradisi ini dilakukan dengan seenaknya menangkap seorang rani, dan kemudian memaksanya menikah.

“Kekerasan yang dialami perempuan berlapis, ditarik, dipaksa, dipukul kalau melawan. Kekerasan seksual serupa karena ada pelecehan seksual, ada permaksaan perkawinan. Ada kekerasan mental, ” tambah Aprissa.

Di Sumba, Aprissa berjuang mengubah paradigma masyarakat yang menegakkan praktik adat tersebut. Dia mengaku, gereja memiliki pekerjaan rumah untuk memberi pemahaman masyarakat mengenai poin kesetaraan. Mereka juga terus bersuara, dengan harapan pemerintah mendengarkan perkataan korban, sehingga tergerak untuk melaksanakan payung hukum yang mampu membatalkan tradisi ini.

Sampai saat ini, kata Aprissa, jika kasus sejenis terjadi, penegak hukum cenderung melihatnya persoalan adat.

“Selalu dibenturkan dengan pernyataan, bahwa ini kebiasaan dan dikembalikan ke keluarga, tercampak nanti mereka yang mengurus, ” pungkasnya. [ns/ab]

depresseddingof9e640ac

https://urlking.info