Masa Miron Wondu membuat berbagai kegiatan tangan seperti keranjang dan mempermainkan dari bahan kain, putrinya yang berusia lima tahun, Hiab berlaku sambil mengepang rambutnya.

“Saya sangat menyukai order ini. Kalau stres, itu benar membantu. Anak perempuan saya serupa bersama saya di sini. Tak terbayang untuk bekerja di tempat lain. Saya tak punya rumpun yang bisa menjaganya. Kaki beta cedera dan ini satu-satunya order yang saya punya, ” kata pendahuluan Miron Wondu.

Semacam kebanyakan perempuan di tempat itu, Miron adalah pencari suaka pokok Eritrea yang telah berada dalam Israel selama lebih dari sepuluh tahun.

Tenteram Abraham, ibu tiga anak, membuktikan pusat komunitas Kuchinate itu istimewa baginya.

“Saya merasa tempat ini rumah kami. Dulu saya tidak punya banyak teman, tapi disini saya punya. Saya bisa menceritakan apa yang terjadi pada mereka dan urusan yang saya hadapi, ” cakap Salam Abraham.

Penuh perempuan itu dirampok atau diperkosa oleh para penyelundup manusia suku Beduin dalam perjalanan dari Afrika menuju Israel melalui gurun Sinai, kata Suster Aziza, seorang biarawati Eritrea dan salah seorang pendiri Kuchinate.

Suster Aziza menasihati para perempuan itu dan mengatakan, pandemi virus corona memicu ingatan atas trauma dengan mereka derita lebih dari utama dekade lalu.

“Para perempuan ini, melewati tanah Sinai dan di sana penuh hal buruk menimpa mereka. Pada masa corona, itu memicu penuh penderitaan. Terutama ancaman kematian, kalau tidak berhasil menyelamatkan diri. Siap, corona menimbulkan rasa khawatir – bagaimana jika terjangkit penyakit serta siapa yang akan mengurus anak-anak? ” kata Suster Aziza.

Pencari suaka dari Eritrea dan Sudan tersebut berada pada ketidakpastian hukum dan sosial selama 15 tahun terakhir di Israel, yang belum menyetujui pemberian kehormatan mereka sebagai pengungsi. Meskipun anak-anak mereka diizinkan bersekolah, namun itu tidak mendapat bantuan pemerintah ataupun pun layanan kesehatan. Ini bahkan lebih menyulitkan perempuan, banyak lantaran mereka sendirian dalam membesarkan anak.

“Para rani inilah kelompok paling rentan sebagai pengungsi di sekitar Tel Aviv atau tempat lainnya. Kami memberdayakan mereka. Kami tidak beri bantuan begitu saja, tapi mereka mendirikan sesuatu untuk menghasilkan uang. Mereka membuat rajutan, itu baik secara psikologis dan spiritual untuk mereka sendiri, ” ujra Suster Aziza.

Pusat pengembangan Kuchinate itu menjual produk-produk buatan tangan, termasuk masker terbaru yang terdiri dari kain Afrika untuk membekukan penyebaran virus corona. Ini juga menunjukkan pada warga Israel mau sulitnya kehidupan sekitar 35. 000 pencari suaka asal Afrika dengan tinggal di antara mereka.

“Memberi dukungan tidak hingga membeli notes atau sebuah keranjang. Dukungan bisa dengan banyak jalan. Bahkan sebelum ada bantuan sejak pemerintah, atau dari pemerintah praja dimana mereka tinggal. Menurut kami tidak banyak diantara kita Israel yang mendapati hal ini, ” kata salah seorang pelanggan Kuchinate, Ilanit Shabo.

Sebagian besar pencari suaka itu tidak ingin letak di Israel secara permanen, sekalipun sudah bertahun-tahun berada disana. Tetapi karena pandemi yang tidak membuktikan tanda-tanda mereda, para pencari perlindungan lebih mementingkan supaya mereka lestari aman. [mg/ii]