Djoko Tjandra Ditangkap

Kabareskrim Komjen Pol. Listyo Sigit dalam keterangan pers yang diterima VOA mengatakan penangkapan dilakukan sebati perintah Preside Joko Widodo di dalam Kapolri Jendral Pol. Idham Termulia. “Bapak Presiden memerintahkan untuk membongkar-bongkar keberadaa Djoko Tjandra di mana, untuk dituntaskan. Atas perintah itu Bapak Kapolri lalu membentuk awak khusus dan kemudian secara intensif mencari keberadaan Djoko, ” perkataan Listyo di bandara Halim Perdanakusuma ketika menanti tibanya tim dengan membawa Djoko Tjandra.

Presiden Joko Widodo beberapa pekan lalu benar memerintahkan seluruh jajarannya untuk memeriksa keberadaan Djoko Tjandra, disusul pemanggilan empat institusi – Kepolisian, Mendagri, Kemenkumham dan Kejaksaan Agung – oleh Menkopolhukam Mahfud MD.

“Kapolri mengirim surat ke polisi Diraja Malaysia untuk bersama-sama mencari. Tadi siang didapat berita yang bersangkutan, target bisa diketahui, ” papar Listyo.

Tim Bareksrim Mabes Polri memeleset ke Kuala Lumpur Kamis burit. “Alhamdulillah, berkat kerjasama kami secara polisi Diraja Malaysia, terpidana Djoko berhasil diamankan, ” tambahnya.

Setibanya di bandara Halim Perdana Kusuma, Djoko Tjandra dibawa ke Bareskrim untuk penyelidikan lebih lanjut. Kabareskrim Komjen Pol. Listyo Sigit menegaskan bahwa proses penyelidikan dan penyidikan selanjutnya akan berlaku transparan dan obyektif “demi melindungi marwah dan institusi Polri. ”

Djoko Tjandra Sempat Pulang ke Indonesia

Nama Djoko S. Tjandra kembali menjadi perbincangan setelah ia diketahui telah kembali berada di Indonesia. Jaksa Agung Sanitiar Burhanuddin dalam rapat kerja dengan Komisi III DPR 29 Juni lalu mengatakan “yang menyakitkan absurd saya adalah katanya tiga bulanan dia ada di sini, mutakhir sekarang terbukanya. Saya sudah perintahkan Jamintel [Jaksa Agung Muda Bidang Intelijen, red] itu tidak bisa terjadi lagi. ” Ia mengkiritisi pihak imigrasi yang tidak mendeteksi masuknya buronan tersebut.


Djoko Tjandra, buronan kasus pengalihan hak tagih (cessie) Bank Bali (foto: courtesy).

Gajah Hukum dan HAM Yasonna Laoly membantah Djoko Tjandra masuk ke perbatasan Indonesia dan menyitir masuknya buronan itu lewat “jalan tikus. ” Djoko S. Tjandra benar sempat masuk dalam daftar pekerjaan orang, tetapi menurut kuasa hukumnya Andi Putra, sebagaimana dikutip pejabat berita Antara, “permohonan terakhir diajukan jaksa pada tanggal 29 Maret 2012. ”

Ditambahkannya, permohonan pencegahan dari Kejaksaan Gede hanya berlaku enam bulan, berarti enam bulan setelah tanggal itu tidak ada lagi pencegahan untuk keluar dari Indonesia atau menghunjam ke wilayah Indonesia.

Djoko S. Tjandra ditemani pengaruh hukumnya pada 8 Juni berantakan diketahui mendaftarkan peninjauan kembali ataupun PK di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

Kasus Djoko S. Tjandra Sempurna Liku

Kasus hukum Djoko S. Tjandra memang berliku. Direktur PT. Kurun Giat Prima itu pada tahun 2000 dijerat dakwaan berlapis melayani tindak pidana korupsi terkait pencairan tagihan Bank Bali melalui pengalihan hak tagih atau cessie, yang merugikan negara 940 miliar rupiah. Namun majelis hakim Pengadilan Daerah Jakarta Selatan memutuskan tidak menerima dakwaan jaksa karena menilai cessie bukan perbuatan pidana, melainkan pertama. Djoko dibebaskan dari dakwaan melaksanakan tindak pidana dan dibebaskan dibanding tahanan kota.

Jaksa ketika itu mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi DKI Jakarta dengan memutuskan untuk melanjutkan perkara. Tetapi ia kembali lolos dari kala hukum karena pandangan yang sama dengan putusan pengadilan negeri.

Jaksa kembali mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung, yang pula ditolak dengan alasan perjanjian cessie itu murni perdana.

Delapan tahun kemudian, tepatnya pada 15 Oktober 2008, jaksa mengajukan PK terhadap putusan kasasi MA yang dinilai keliru, terlebih sebab putusan terhadap Djoko S. Tjandra, Pande Lubis yang ketika itu menjabat sebagai Wakil Ketua Awak Penyehatan Perbankan Nasional BPPBN [ketika itu] dan Syahril Sabirin yang ketika itu menjabat jadi Gubernur Bank Indonesia berbeda; real ketiganya diadili untuk perkara yang sama, dalam berkas terpisah. Pande sudah lebih dulu divonis 4 tahun penjara, sementara beberapa tarikh kemudian Djoko dan Syahril dijatuhi vonis dua tahun penjara. Pra putusan dieksekusi, Djoko keburu membawa diri. [em/pp]

depresseddingof9e640ac

https://urlking.info