Rapid Test Jadi Komersial, Perlukah Dihentikan?

Wakil Kepala Ombudsman RI, Lely Pelitasari, mengatakan upaya komersialisasi itu terlihat lantaran semakin banyaknya pihak yang meminta rapid test. Di sisi lain, tidak ada standar yang menyusun tes cepat dan biayanya.

“Belakangan kemudian disyaratkan untuk mereka yang akan naik pesawat. Bahkan terakhir informasinya—kami masih kudu konfirmasi— di Jawa Timur, disyaratkan untuk mereka yang akan teguran, anak-anak disyaratkan untuk rapid test, ” ungkapnya dalam sebuah permufakatan, Sabtu (4/7) pagi.


Tangkapan layar Wakil Kepala Ombudsman RI, Lely Pelitasari Soebekty dalam diskusi Sabtu (4/7) pagi. (Foto: VOA/Rio Tuasikal)

Bahkan, Lely menyebut, sejumlah rumah sakit pada Jakarta mensyaratkan rapid test bagi penunggu pasien.

“Saya dua minggu yang lalu menjadi penunggu pasien, dan itu salah satu persyaratannya harus lulus rapid test dan rontgen paru, ” tambahnya yang sempat menjadi pasien Covid-19 & kini telah sembuh.

Karena itu, dia menegaskan, menetapkan ada standarisasi layanan, biaya, regulasi, dan standar prosedur operasi ( standard operating procedure /SOP). Dia mendesak pemerintah mendarat tangan dan tidak menyerahkan rapid test ke mekanisme pasar.

“Ini kan kaitannya dengan kepentingan umum, pemerintah atau negara harus intervensi. Apa lagi tersebut kondisinya extraordinary, ” tegasnya.

Ahli Wabah Minta Pokok pada PCR

Sementara itu pakar wabah lantaran Universitas Indonesia, Pandu Riono, PhD, melihat ada pihak-pihak tertentu dengan memanfaatkan kecemasan publik. Akhirnya, rapid test pun menjadi sesuatu dengan diperjualbelikan.


Spesialis epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Pandu Riono, PhD, di diskusi Sabtu (4/7) pagi.

“Saya nggak tahu siapa yang memetik keuntungan dari masalah ini. Serta harus ada tindakan tegas buat menghentikan semua ini, ” tegasnya dalam kesempatan yang sama.

Pandu menjelaskan, tes lekas tidaklah akurat. Sebab tes lekas tidak benar mendeteksi keberadaan virus melainkan mendeteksi antibodi.

“Yang dites itu antibodi, respon tubuh terhadap adanya virus. Itu baru terbentuk seminggu atau 10 hari setelah terinfeksi. Siap kalau tidak reaktif, bukan bermakna tidak terinfeksi. Kalau reaktif, bukan berarti juga bisa infeksius, paparnya.


Para aparat medis mengambil sampel darah pada lantatur tes cepat di pusat wabah virus corona (COVID-19) dalam Bandung, Jawa Barat, 4 April 2020. (Foto: Antara via Reuters)

Selain itu, tambah Pandu, dalam Indonesia sekarang beredar 100 macam tes cepat yang tidak pernah diuji tingkat akurasinya. Karena itu dia mendesak pemerintah segera menahan tes cepat dan fokus dalam tes PCR ( polymerase chain reaction ).

“Kalau enggak (dihentikan), publik rugi. Atau banyak kekayaan negara yang harusnya bisa memajukan kapasitas testing PCR akhirnya buat membeli rapid test, tambahnya.

Puji Daerah yang Tingkatkan PCR

Sementara itu, Membuktikan mengatakan ada sejumlah wilayah dengan patut diberi pujian karena meningkatkan kapasitas tes PCR-nya. Daerah ini adalah DKI Jakarta dan Jawa Barat.

“Karena dalam jangka panjang–pandemi ini panjang–kita butuh surveilans yang masif. Surveilansnya apa? Testing , lacak, isolasi, ” imbuhnya.

Pemprov DKI Jakarta mengumumkan, sampai 28 Juni kemarin telah melakukan ulangan PCR terhadap 296. 360 sampel. DKI Jakarta meningkatkan kapasitas tes lewat jejaring laboratorium yang kini mencapai 41 lokasi.


Pemprov Jabar melakukan ulangan cepat di Stasiun Bojonggede, Kecamatan Bojonggede, Kota Bogor, Jumat (26/6). Ombudsman menduga, tanpa standarisasi dengan jelas, tes cepat telah dikomersilkan oleh sejumlah pihak. (Foto: Courtesy/Humas Jabar)

Sementara Pemprov Jabar mencetak telah mengetes 78. 108 karakter dengan metode PCR. Pemprov Menjelajahkan mengatakan saat ini masih mempunyai stok 70 ribu test kit PCR. Dalam waktu dekat Pemprov bakal membeli 150 ribu test ki t PCR sebagian impor sebagian buatan pada negeri.

Di bagian lain, Lely dari Ombudsman mengapresiasi inisiatif daerah yang meningkatkan daya PCR, seperti dilakukan Sumatera Barat.

“Skema inisiatif dari daerah. Contoh bagaimana kawan-kawan di Universitas Andalas di Sumbar, membuat inisiatif membuat alat (PCR) sendiri, ” tutupnya. [rt/em]

depresseddingof9e640ac

https://urlking.info