Sejak bulan Maret, ketika pandemi virus corona semakin parah, sekolah-sekolah dan perguruan tinggi di Amerika menghentikan kegiatan belajar-mengajar di sekolah atau kampus dan menggantinya secara pembelajaran daring. Namun, sistem penelaahan demikian ternyata mengalami berbagai hambatan.

Seorang kepala madrasah di Hartford, Connecticut, telah mengarah para siswa dari rumah ke rumah dan berbicara dengan orang tua anak-anak yang selama ini belum berpartisipasi secara efektif di pembelajaran online atau daring.

Investigasi yang dilakukan oleh Tayarisha Stone-Batchelor, seorang kepala sekolah di Hartford, Connecticut, mengungkapkan bahwa urusan absennya anak-anak dari pembelajaran daring berawal dari layanan internet dengan tidak dapat diandalkan, kurangnya perlindungan ketika pengampu sedang bekerja, dan sebagian keluarga yang tidak menghaki teknologi yang digunakan.

“Para wali dihadapkan pada urusan, ketika musim panas tiba, pelik bagi mereka untuk mempertahankan anak-anak tetap termotivasi dan menyelesaikan order mereka. Jadi, sebagian karena musim, karena ini musim panas, tapi kami juga melihat adanya kelelahan melakukan banyak pembelajaran daring, ” kata Tayarisha Stone-Batchelor.

Hampir sepertiga siswa di Rawson Elementary School, sebuah sekolah dasar di Hartford yang dipimpin oleh Tayarisha Stone-Batchelor tidak mengikuti penelaahan jarak jauh.

Pada kunjungan Jumat sore lalu ke rumah seorang siswa kelas tiga Jamie-Lee Henderson, kepala sekolah itu dan pengawas sekolah menemukan bocah itu dalam keadaan sangat tertahan akibat matanya terus tertuju di video game di ponsel pintarnya.

Ayah Jamie-Lee, Oral Henderson, mengatakan putranya merasa aman menggunakan komputer dan, sejauh dengan diketahuinya, bocah itu mengikuti disiplin sekolahnya, meskipun sinyal internet lembek.


Ilustrasi. Seorang gadis sedang belajar online di rumahnya selama penutupan sekolahnya karena pandemi Covid-19, 25 Juni 2020, Phnom Penh, Kamboja. (Foto: VOA/Kann Vicheika)

Selagi tahun akademik hampir berakhir, distrik-distrik di seluruh Amerika dihadapkan pada masalah di mana sebesar besar siswa tidak muncul kembali ke jalur pembelajaran daring.

Para siswa yang sederhana juga termasuk yang paling sensitif. Di seluruh sistem sekolah Hartford, sekitar 80% siswa hanya sebagian aktif dalam pembelajaran jarak jauh.

Di antara para siswa yang dianggap paling berisiko karena berbagai masalah termasuk absensi pada masa lalu, masalah peraturan dan kemampuan akademik yang membatalkan, kurang dari setengah dari itu berpartisipasi dalam pembelajaran jarak jauh.

Pada kunjungan panti berikutnya, Batchelor bertemu dengan seorang ayah yang mengakui tidak mengakui komputer. Dia mengatakan putrinya melenyapkan berjam-jam dalam program pembelajaran digital.

Para pengelola madrasah memutuskan di antara mereka sendiri siapa yang akan mengunjungi tanggungan siswa yang beraktivitas rendah, berdasarkan siapa yang memiliki hubungan paling dekat.

Tujuan dialog dengan para orang tua budak didik, kata Batchelor, adalah untuk menekankan bahwa sekolah belum libur, sekolah masih berjalan. Kunjungan ke rumah siswa juga untuk menanyakan apa saja hambatan yang mereka hadapi, serta untuk mengukur interpretasi orang tua tentang proses penelaahan.

Kunjungan ke rumah siswa memberikan wawasan yang berharga bagi para pendidik sementara itu berusaha mencari tahu bagaimana sekolah sebaiknya dijalankan pada musim mati mendatang.


Foxton Harding, kiri dan Adison Pucci, keduanya berusia 12 tahun dan belajar di Northshore Middle School sudah belajar secara daring akibat corona. (Foto: Reuters)

“Hari ini kita bisa melihat itu. Jadi, ada sebagian orang tua dan jongos yang tidak ada di rumah. Mereka bekerja, dan walaupun itu bukan merupakan kekhawatiran yang dilontarkan, karena wali tidak ada di rumah, kita tahu itu bisa menjadi kendala bagi siswa untuk mengakses pembelajaran, mengingat bahwa mereka tidak memiliki struktur dan dukungan yang diperlukan, ” kata penilik sekolah negeri, Hartford Leslie Torres-Rodriguez, dalam satu diantara kunjungannya ke sendi siswa.

Banyak negeri melaporkan keterlibatan siswa telah menyusun sejak Maret lalu, yakni di dalam masa transisi ke pembelajaran jangka jauh, tetapi itu belum mencapai tingkat partisipasi yang penuh.

Sebagian siswa malahan sepadan sekali tidak ikut di pada program pembelajaran online ini. [lt/jm]