Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, dr. Iwan Ariawan, MS, mengatakan Pembatasan Baik Berskala Besar (PSBB) memang jadi mengurangi pergerakan masyarakat dan menekan penularan virus.

Namun, menurut analisanya, perlu lebih banyak orang yang diam di rumah sebelum Indonesia mencapai standar Badan Kesehatan tubuh Dunia (World Health Organization/WHO) pada penerapan “new normal”. Dia mengatakan, baru 46% populasi Indonesia dengan diam di rumah. Jika berserang, Indonesia baru bisa menekan nilai reproduksi virus (Rt) sampai di bawah 1 sesuai rekomendasi WHO.

“Jadi tanggung, sedikit lagi. Kalau di Indonesia kita bisa menjadikan orang yang letak di rumah itu 55%-an, mampu lebih banyak lagi, kita bakal mencapai Rt-nya di bawah satu. Artinya penularan virus bisa terkontrol dan kita bisa coba buat relaksasi PSBB, ” jelasnya di diskusi virtual mengenai pelonggaran PSBB, Kamis (28/5) pagi.


Analisa Dosen Fakultas Kesehatan Kelompok Universitas Indonesia, dr. Iwan Ariawan, menunjukkan, Indonesia bisa mencapai Rt di bawah 1 asalkan 50% lebih penduduk Indonesia diam dalam rumah. (Tangkapan layar presentasi dr. Iwan Ariawan)

Data Iwan diambil dari mobilitas handphone yang direkam Google. Data itu kemudian dipadankan dengan laju kasus Covid-19 yang dicatat pemerintah.

Iwan mengatakan, meski PSBB berdampak gede pada ekonomi, dia meminta kelompok bersabar sedikit lagi demi menyentuh standar.

“Kita kurang lagi, belum sampai mengontrol epidemi, sedikit lagi. Jadi kita mesti bersabar sedikit lagi, supaya nanti kita bisa mulai relaksasi. Buat apa? Untuk menjaga tidak berlaku epidemi kembali si Covid-19 dalam Indonesia ini, ” tambah dosen Departemen Biostatistika dan Kependudukan itu.

Pemerintah Diminta Patuhi Kriteria WHO

Sementara itu, dr. Dicky Budiman dari Pusat Studi Dunia dan Kesehatan Masyarakat (CEPH) Griffith University, Australia, mengatakan pelonggaran PSBB sedianya hanya dilakukan ketika suatu negara sudah melewati puncak kurva wabah.

“Kita (Indonesia) belum mencapai puncak ya masih di gelombang pertama. Tidak cuma ada potensi gelombang kedua serta ketiga tapi ada juga dengan disebut dengan the second peak, the third peak, ketika kita lengah abai dalam strategi maupun upaya pencegahan, ” tandas Dicky dalam kesempatan yang sama.


dr. Dicky Budiman dibanding Griffith University, Australia, mengatakan pelonggaran PSBB hanya boleh dilakukan ketika sebuah negara sudah melewati ujung kurva wabah, seperti di Belgia dan Prancis. (Tangkapan layar penyajian dr. Dicky Budiman )

Dicky mengatakan, negara-negara yang sudah melewati puncak wabah antara lain Swiss, Perancis, dan Belgia. Masing-masing tiba melonggarkan lockdown secara bertahap setelah melakukan pembatasan ketat kepada warganya.

Dicky menggarisbawahi pentingnya pemerintah mengikuti 6 kriteria dari WHO sebelum menerapkan kenormalan segar. Tiga pertimbangan pertama adalah penjagaan kuat dan penularan terkontrol; punya kapasitas deteksi, isolasi, tes, pelihara, dan telusur kontak; dan risiko wabah diminimalisir.

Dicky menegaskan, tanpa kemampuan testing-trace-treatment serta isolation, wabah penyakit takkan redup.

“Karena ini pasti menjadi dasar atau andalan utama, dalam kita mengendalikan pandemi atau epidemi. Tanpa adanya kegiatan itu, akan sangat mustahil kita mampu menyelesaikan perang melawan pandemi, ” terangnya lagi.

Sementara tiga faktor lain adalah kiprah pencegahan di sekolah dan wadah kerja; risiko-risiko penting terkendali; serta masyarakat sudah terdidik akan kenormalan baru.


Seorang petugas mengenakan masker di sebuah pusat perbelanjaan setelah Indonesia mengkonfirmasi kasus virus corona pertama di Jakarta, 5 Maret 2020. (Foto: Reuters)

DKI Jakarta Bersiap Masuki New Normal

Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Jawatan Kesehatan, dr. Dwi Oktavia Handayani, mengatakan masih mengkaji kriteria lantaran WHO.

“Jadi saat ini pemprov DKI masih meneliti kriteria kesehatan masyarakat dan selalu model pelonggaran, tahapan pelonggaran PSBB, yang bisa diterapkan pada era nanti kita sudah putuskan buat mulai memutuskan pelonggaran PSBB, ” ujar Lies, sapaan akrabnya, dalam kesempatan yang sama.

Real, DKI Jakarta – bersama tiga propinsi lainnya – akan menerapkan tatanan kelaziman baru pada kamar Juni ini. Ibukota akan mendatangi akhir dari PSBB periode ketiga pada 4 Juni.

Yang pasti, ujar Lies, Pemprov DKI Jakarta berupaya mengikuti standar WHO dari segi epidemiologi, pola kesehatan, dan sistem surveilans kesehatan tubuh. Salah satunya adalah menyiapkan sarana kesehatan sekiranya kasus Covid-19 terbang kembali.

“Sekaligus mengantisipasi kalau sampai terjadi peningkatan kejadian. Jadi bukan berarti saat pelonggaran PSBB kapasitas RS-nya diturunkan, namun tetap kita mempersiapkan kapasitas minimal supaya kasus yang baru tentu bisa tertangani, ” tutupnya. [rt/em]