Kematian seorang pria keturunan Afrika-Amerika, Senin (25/5) saat ditahan polisi di Minneapolis memicu penyelidikan prioritas tinggi oleh Departemen Kehakiman A. S.

Sebuah video yang diambil oleh seseorang yang berada di lokasi kejadian, menunjukkan salah kepala petugas dari empat polisi kulit putih berlutut menindih seorang pria berusia 46 tahun, George Floyd yang tangannya diborgol.

Floyd mengatakan “Saya tidak bisa bernafas” ketika badannya terbenam dan terjepit di antara mobil polisi dan bahu jalan dengan wajah menghadap ke tanah selama delapan menit sebelum kemudian meninggal.

Keempat polisi dengan melakukan penahanan itu dipecat pada hari Selasa (26/5) lalu.

Pada hari Jumat (28/5), salah seorang polisi yang dipecat, Derek Chauvin ditangkap dan didakwa oleh pihak berwenang negara bagian atas pembunuhan tingkat tiga dan pembantaian tingkat dua, masih belum jelas tuduhan yang akan dipakai pada Derek pada tingkat federal.

Ketika pihak berkuasa negara bagian Minnesota mengumumkan interpretasi Chauvin, Jaksa Agung AS William Barr mengatakan Departemen Kehakiman dan FBI sedang menyelidiki kematian Floyd untuk menentukan apakah “ada peraturan hak sipil federal yang dilanggar. ”

“Seperti pengerjaan pada umumnya, putusan pada tataran negara bagian ditentukan terlebih dahulu, ” kata Barr dalam suatu pernyataan. “Saya yakin keadilan mau diberlakukan. ”

Dalam bawah hukum federal, adalah suatu tindakan kriminal bagi petugas penegak hukum yang secara sengaja menawan hak konstitusional siapa pun.

Jaksa federal mengandalkan statuta itu dalam investigasi atas sebanyak penembakan yang dilakukan sejumlah penjaga saat bertugas.

Tetapi beberapa dakwaan federal dalam urusan seperti itu jarang terjadi. Kejadian itu dikarenakan undang-undang mengharuskan jaksa untuk memenuhi ketentuan pada terkatung-katung batas yang lebih tinggi terhadap petugas penegak hukum termasuk polisi. [mg/pp]