ABK Dilarung di Perairan Somalia, Indonesia Kirim Nota Diplomatik ke China

Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia (WNI) & Badan Hukum Indonesia Kementerian Luar Negeri Judha Nugraha mengatakan kementeriannya telah mengadakan pertemuan dengan departemen dan lembaga terkait untuk mempercakapkan kasus pelarungan jenazah seorang ABK asal Indonesia yang bekerja pada kapal Lu Qing Yuan Yu 623 di Perairan Somalia.

Pertemuan tersebut juga dihadiri oleh kuasa hukum ahli darah korban dan kuasa hukum PT MTB yang memberangkatkan korban.

Dalam pertemuan tersebut, lanjut Judha, pihaknya melakukan klarifikasi mengenai kronologi kematian ABK berinisial H tersebut. Pertemuan ini pula membahas tentang upaya pemenuhan hak-hak almarhum.

Judha memasukkan H meninggal pada 16 Januari 2020 ketika kapal tempatnya bergerak, Lu Qing Yuan Yu 623, tengah berlayar di perairan Somalia. Yang pertama kali mengetahui maut H adalah ABK sesama warga negara Indonesia ketika mereka membuktikan membangunkan korban. Tidak diketahui apa penyebab korban menghembuskan napas final.

“Kemudian di 23 Januari 2020, berdasarkan tulisan kematian yang dikeluarkan oleh PT MTB, jenazah H dilarung pada laut sekitar perairan Somalia. Perlu kami sampaikan data yang ana terima, tanggal 16 Januari janji dan 23 Januari proses pelarungan, itu berdasarkan dokumen yang awak terima dari PT MTB, ” kata Judha.


Plt. juru bicara Kemlu RI Teuku Faizasyah dan Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia Judha Nugraha (kanan) dalam jumpa pers secara virtual di Jakarta. (Courtesy: Kemlu)

Menurutnya, PT MTB meminta telah mengirim surat keterangan moralitas atas nama H pada 23 Januari 2020 kepada tiga pihak terkait, yakni Kementerian Luar Negeri, Departemen Tenaga Kerja, dan Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kegiatan Indonesia (BNP2TKI). Namun setelah dicek, surat keterangan kematian itu tak pernah dikirimkan kepada tiga institusi tersebut.

Judha menegaskan Kementerian Luar Negeri terakhir menerima informasi tentang kematian sekali lalu pelarungan jenazah H di segara Somalia pada 8 Mei 2020 dari aduan pihak yang tak disebutkan namanya. Setelah menerima pengaduan itu, Kementerian Luar Negeri sudah mengambil beragam langkah termasuk meminta konfirmasi dari pihak keluarga, berkoordinasi dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Ibu Kota Nairobi, Kenya.

Dari buatan koordinasi tersebut, konsul kehormatan Nusantara di Somalia lalu meminta fakta kepada otoritas setempat. Namun pihak Somalia tidak mengetahui mengenai kejadian pelarungan jenazah H.

Menurut Judha, KBRI dalam Ibu Kota Beijing telah mengirim nota diplomatik kepada Kementerian Luar Negeri China untuk meminta pengkajian lebih lanjut mengenai peristiwa mair tersebut, termasuk soal pelarungan serta alasan jenazah H dilarung di perairan Somalia. KBRI Beijing juga meminta agar otoriotas China menyelami tentang kondisi para ABK WNI bekerja di kapal Lu Qing Yuan Yu 623 itu.

“Berdasarkan koordinasi saya dengan Kemenhub (Kementerian Perhubungan) & Kemenaker (Kementerian Tenaga Kerja), PT MTB tidak tercatat memiliki permisi untuk menempatkan awak kapal Nusantara di luar negeri, ” ujar Judha.

Judha mengatakan PT MTB menyatakan telah menunaikan semua gaji almarhum, membayar sebagian santunan. Sedangkan uang asuransi pusat dalam proses administrasi. Judha menekankan Kementerian Luar Negeri akan mempelajari klaim PT MTB itu pada pihak ahli waris.

Bareskrim Mabes Polri Berangkat Lakukan Analisis

Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri Brigjen Ferdy Sambo mengatakan Polda Jawa Tengah mulai mengabulkan penyelidikan dengan asistensi satgas TPPO (tindak pidana perdagangan orang) Bareskrim Mabes Polri.

Menurutnya informasi ini diselidiki oleh Polda Jawa Tengah dalam rangka efektivitas penanganan karena perusahaan agensi yang memberangkatkan ABK itu berlokasi dalam Tegal, Jawa Tengah.

Namun Satgas TPPO Bareskrim langgeng mendampingi proses penyelidikan tersebut.

Pelarungan ABK Diketahui dari Unggahan Video di Sosmed

Informasi pelarungan ABK asal Indonesia di Segara Somalia ini bermula dari gambar yang diunggah oleh akun bernama Suwarno Cano Swe, Sabtu (16/5). Dalam unggahan itu, disebutkan bahwa jenazah merupakan ABK asal Indonesia yang dilarung di Perairan Somalia.

Ada tiga fragmen video berdurasi 29 detik dengan diunggah akun tersebut. Dalam gambar yang diunggah, tampak seorang ABK yang bekerja di kapal Lu Qing Yuan Yu 623 merasai siksaan hingga tutup usia serta jasadnya dilarung ke laut.

Terkait kasus ABK WNI bekerja di kapal Long Xin 629 dan kapal Tian Yu 8, keduanya berbendera China, Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia (WNI) dan Badan Hukum Indonesia Departemen Luar Negeri Judha Nugraha membaca secara keseluruhan ada 46 ABK WNI berada di Busan masa itu adalah mereka yang bekerja di empat kapal berbendera China, yakni Long Xin 629, Long Xin 605, Long Xin 606, dan Tian Yu 8.

Dari 46 ABK WNI tersebut, Kementerian Luar Negeri telah memfasilitasi kepulangan 44 karakter ke negara, termasuk satu jenazah berinisial EP. Sedangkan dua ABK WNI lainnya tengah berlayar beserta kapal Long Xin 606 serta saat ini berada di sekitar perairan Xandong dan Dalian.


Dua ABK di atas kapal Long Xin berbendera China (courtesy: Facebook).

Judha memasukkan KBRI Beijing telah menjalin kontak dengan kedua ABK WNI di kapal Long Xin 606 tersebut. Mereka dalam kondisi sehat. KBRI Beijing mengupayakan akses kekonsuleran supaya dapat bertemu kedua ABK WNI tersebut.

Menurutnya, otoritas China masih menyelidiki kejadian perlakuan tidak manusiawi terhadap ABK WNI bekerja di empat kapal ikan China itu. Kementerian Sungguh Negeri berharap segera mendapatkan buatan dari investigasi tersebut.

Hingga 19 Mei 2020, dibanding total 23. 570 ABK WNI yang bekerja di luar jati, 16. 974 ABK telah kembali ke tanah air. [ fw/em]

depresseddingof9e640ac

https://urlking.info