Perjuangan Vanderlecia Ortega dos Santos sangat sulit. Permukiman reyot yang didiami 35 suku, bernama Parque das Tribos, kurang pipa ledeng dan listrik pada kebanyakan rumah.

Ambulans seringkali menolak menjemput warga dengan sakit parah karena tidak ada klinik kesehatan umum di dekatnya.

Sementara pandemi virus corona telah mulai menyebar di seluruh Brasil, warga suku asli yang tinggal di dan sekitar kota-kota, terjebak dalam situasi kritis. Layanan kesehatan suku asli dalam negara itu, Sesai, memusatkan sumber daya kepada mereka yang letak di wilayah reservasi kesukuan.

Sesai telah melaporkan 10 kematian akibat pandemi di tanah-tanah suku asli, tapi organisasi pelindung suku asli APIB memperkirakan pasar lalu bahwa pandemi telah menewaskan sedikitnya 18 warga suku asli di Brasil apabila fatalitas dalam wilayah urban juga dihitung. Total pasti kasus-kasus di desa-desa terisolasi di seluruh pedalaman Brasil, suram dipastikan.


Pemandangan pemakaman Parque Taruma saat wabah COVID-19, di Manaus, Brasil 13 Mei 2020. (Foto: Reuters/Bruno Kelly)

“Orang-orang kami meninggal karena penyakit itu disini dan mereka tidak diakui sebagai warga suku asli oleh negara dan Sesai, ” sebutan Vanda, seorang anggota suku Witoto dari bagian atas sungai Amazon di perbatasan dengan Kolombia, ” kata Vanda.

Sesai telah mengatakan warga suku asli yang tinggal di kota-kota harus menggunakan layanan kesehatan umum Brasil.

Seorang juru bicara wali kota Manaus mengatakan kesehatan warga suku asli adalah rumor federal dan bukan tanggung berat pemerintah kota.

Manaus, ibu kota negara bagian Amazonas, mengalami wabah COVID-19 paling berat per kapita. Di sana, keburukan itu membuat rumah sakit dan pemakaman kewalahan, serta membuat para-para pejabat kesulitan menghitung jumlah target tewas.

Kunjungi Rumah-rumah Warga

Vanda, 32 tahun, lahir di desa Amatura di pinggir kali dan pindah 10 tahun berantakan ke Manaus. Di tempat itu lah ia menjalani pelatihan sebagai perawat. Ia bekerja merawat pasien kanker kulit di sebuah klinik di kota itu.

Tapi sejak wabah dimulai, tempat mulai menggunakan waktu luang buat mengunjungi rumah-rumah warga di komunitasnya, melacak kemungkinan gejala COVID-19 lewat grup ‘WhatsApp’ yang dia bentuk.

Pekan lalu dia memonitor sekitar 40 orang di pengawasan (ODP). Dia merujuk lima orang dalam kondisi serius ke IGD, termasuk seorang perempuan lansia yang terpaksa dibawa naik mobil karena tidak ada ambulans.

Vanda memberi para pasiennya obat penawar rasa sakit serta obat-obatan dasar lain, sambil meluluskan nasihat untuk menekan penularan. Dia melakukan kunjungan ke rumah awak sambil mengenakan baju pelindung, menyarung tangan dan masker -terkadang dengan mengenakan penutup kepala tradisional Witoto yang terbuat dari bulu burung macaw.


Logo Amazon terlihat di depan tulisan COVID-19 yang ditampilkan dalam ilustrasi dengan diambil 19 Maret 2020. (Foto: Reuters/Logo Amazon terlihat di aliran tulisan COVID-19 yang ditampilkan pada ilustrasi yang diambil 19 Maret 2020. (Foto: Reuters/Dado Ruvi

Ekonomi Amazon Terdampak Pembatasan Sosial

Kelaparan muncul di masyarakat sebelum virus datang, katanya. Upaya pembatasan sosial dengan diberlakukan untuk memperlamban wabah sudah merugikan ekonomi lokal dan menghapus pendapatan bagi para perempuan yang membuat kerajinan atau membersihkan rumah-rumah di Manaus, serta laki-laki dengan bekerja sebagai tukang bangunan.

“Karena kami tidak mendapat bantuan umum, saya berinisiatif melakukan kampanye di media sosial buat meminta sumbangan makanan dan perlengkapan higienis, ” kata Vanda.

Dia juga memulai lokakarya di rumah ibunya dimana para perempuan menjahit masker kain buat masyarakat, menghasilkan 30 masker sehari dengan satu mesin jahit.

Ketika menteri kesehatan Negeri brazil mengunjungi Manaus pekan ini, Vanda dan dua kawannya menyambutnya dengan protes di luar rumah rendah utama kota itu. Mereka menuntut perhatian medis kepada warga suku asli.

Dia dan dua perempuan lain mengenakan masker yang dibuat ibunya, bertuliskan “Indigenous Lives Matter” atau “Nyawa Orang Suku Asli Berharga. ” [vm/jm]