Yogya Satu-Satunya Provinsi Tanpa PSBB dalam Jawa

Hampir semua provinsi di Pulau Jawa telah memiliki kawasan yang menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar. Di DKI Jakarta dan Jawa Barat, PSBB bahkan diterapkan dalam rasio provinsi. Di Banten, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, penerapan dikerjakan terbatas di tingkat kabupaten atau kota. Hanya Yogyakarta, provinsi yang hingga hari ini tidak mempunyai wilayah yang menerapkan PSBB.

Sekretaris Daerah Yogyakarta, Kadarmanto Baskara Aji menyebut mereka masih akan melihat perkembangan yang terjadi.

“Jadi pertimbangan-pertimbangan kita untuk PSBB masih kita konsultasikan dengan Jakarta. Kabupaten dan tanah air juga masih harus mempersiapkan diri, melihat perkembangan-perkembangan seperti apa. Sejak hasil koordinasi kita, kabupaten/kota dengan DIY, kita menganggap bahwa kita belum perlu untuk mengajukan PSBB, ” kata Baskara Aji.


Hampir setiap malam aparat gabungan Satpol PP, TNI serta Polisi menggelar operasi di berbagai wilayah membubarkan kerumunan. (Foto: Pemda DIY)

Keterangan itu diberikan Baskara Aji, Rabu (13/5) di Yogyakarta, seusai rapat antara gugus perintah DIY dengan seluruh kepala wilayah. Menurutnya, pemberlakuan PSBB harus mempertimbangan banyak faktor, tidak hanya aspek kesehatan saja.

Lembaga Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah merekomendasikan pemberlakuan PSBB di segenap Jawa. Wacana ini disampaikan Penulis Utama BNPB, Harmensyah, dalam kerap daring bersama Komisi VIII DPR, Selasa (12/5). BNPB mencatat, Jawa memiliki 70 persen kasus corona dengan angka kematian 82 tip dari kasus nasional.

Baskara Aji melanjutkan, dalam perembukan dengan BNPB, pihaknya akan mengajukan data-data daerah, jika nantinya mau mengarah ke pemberlakuan PSBB. Baskara Aji menambahkan, pihaknya sampai zaman ini masih memilih melakukan rapid tes secara massal.

“Untuk Yogya sendiri sampai secara hari ini, memang belum mengajukan untuk PSBB. Kita masih secara status tanggap darurat. Namun tersebut tadi di rapat koordinasi, intinya kita akan melakukan pengembangan kepada rapid test secara massal, khususnya dalam tempat-tempat keramaian, ” ujar Baskara Aji.

Seluruh pemerintah daerah di Yogyakarta dalam pertemuan hari Rabu juga menyetujui, rapid test massal akan diperbanyak di sentral keramaian seperti pasar dan was-was perbelanjaan. DIY dan seluruh kabupaten telah memiliki stok alat tes massal, dan akan melakukan koneksi dengan BNPB jika mengalami kenistaan.


Rapid tes dilakukan Pemda Kabupaten Sleman DIY kepada sekitar 1. 500 pengunjung pusat perbelanjaan Indogrosir. (Foto: Humas Pemda Sleman)

Tes massal, kata pendahuluan Baskara Aji, akan dilakukan secara mengambil contoh di setiap populasi. Di pasar atau supermarket, bakal dilakukan pengambilan sampel baik sejak pedagang, pembeli, ataupun karyawan kurun 200-500 orang tergantung ukuran populasi. Dari hasilnya, jika ditemukan reaktif akan dilanjutkan dengan tracing untuk menemukan kasus penularan lebih jauh.

Dua langkah lain yang diambil di Yogyakarta adalah penambahan patroli untuk membubarkan kerumunan, dan antisipasi arus mudik.

Klaster Pusat Perbelanjaan

Sejak pembukaan Mei 2020, Yogyakarta memusatkan perhatian pada klaster-klaster penularan yang terkonsentrasi. Sebelumnya, telah ditetapkan klaster jamaah tabligh dan klaster Gereja GPIB yang menyumbang angka kasus pas besar. Namun, kini Yogyakarta memiliki klaster kasus yang lebih gembung lagi, yaitu pusat perbelanjaan Indogrosir di Kabupaten Sleman. Klaster-klaster anyar ini menyumbang peningkatan kasus harian cukup signifikan.

“Penambahan kasus terkonfirmasi positif COVID-19 pada hari ini, tanggal 13 Mei 2020 sebanyak 12 kasus, jadi jumlah kasus positif di DIY adalah 181 kasus, ” prawacana Berty Murtiningsih, juru bicara gabungan tugas DIY.

Dibanding 12 kasus baru yang diumumkan, ada 10 kasus yang adalah bagian dari klaster pusat honorarium Indogrosir. Hingga Rabu (13/5) dibanding pusat perbelanjaan ini telah terlihat 26 kasus positif terinfeksi virus corona, di lingkungan karyawan lantaran keluarga atau mereka yang berinteraksi dengan mereka.

Terpaut hal ini, dr. Riris Andono Ahmad selaku Anggota Gugus Perintah Penanganan COVID-19 DIY mengatakan, klaster Indogrosir menunjukkan bahwa penularan sudah terjadi secara meluas.

“Pada kasus-kasus tersebut, perlu tersedia transisi strategi dari contact tracing ke screening massal, atau menggunakan kombinasi strategi tersebut. Perlu peningkatan kapasitas analisis dan tata laksana kasus, yaitu fasilitas karantina dan isolasi non medis, mengingat cukup banyak urusan yang tidak bergejala atau bergejala ringan saja, ” kata Riris.


Petugas gabungan Satpol PP, TNI dan Polisi menerapkan operasi di berbagai wilayah mengecewakan kerumunan. (Foto: Pemda DIY)

Istimewa untuk menangani klaster Indogrosir, Pemerintah Kabupaten Sleman menggelar rapid test bagi sekitar 1. 500 pengunjung sentral perbelanjaan itu dalam periode terbatas. Rapid test digelar pada 12-14 Mei di salah satu gedung olahraga milik pemerintah. Di hari pertama, ditemukan 20 orang reaktif dan pada hari kedua sebesar 19 orang. Pengunjung yang reaktif diminta mengikuti prosedur isolasi pada gedung-gedung yang telah ditentukan oleh pemerintah setempat.

Di tingkat provinsi, Yogyakarta telah melakukan 10. 601 rapid test di bervariasi kawasan. Dari jumlah tersebut, masukan hingga 11 Mei 2020, sebanyak 265 orang dinyatakan reaktif.

Kepala Balairung Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BBTKLPP) Yogyakarta, Irene mengakui ada lonjakan sampel dengan masuk ke lembaganya. BPTKLPP awalnya menerima sampel dari Yogyakarta & sebagian Jawa Tengah, khususnya bagian selatan dan timur. Namun, saat ini karena jumlah sampel dari Yogyakarta melonjak, pihaknya membatasi penerimaan.

“Makin banyak, salah satunya karena screening tadi, kita tidak lagi menunggu PDP lagi, kita sudah mulai ada sampel masuk sejak OTG dan ODP, yang melalui screening ditemukan positif. Terus juga hasil tracing , misalnya bapaknya positif, terus istrinya dan anaknya diambil sampelnya, ” kata Irene.


Laboran di BTKLPP Yogyakarta memeriksa spesimen yang datang dari DIY serta sebagian Jawa Tengah. (Foto: VOA/ Nurhadi)

Dari catatan yang ada, BBTKLPP Yogyakarta pada 11 Mei menerima 50 sampel swab virus corona dan 12 Mei meresap 85 sampel. Irene menjanjikan proses yang lebih cepat, sekitar 2-3 hari karena primer dan reagen kini tidak lagi mengalami sekatan. Selain itu, jumlah laboratorium yang memeriksa sampel juga semakin banyak.

Hingga 13 Mei, DIY memiliki 5. 734 orang dalam pemantauan (ODP) dan satu. 180 pasien dalam pengawasan (PDP). Dari 1. 180 PDP tersebut, 209 orang diantaranya rawat inap, 899 orang rawat jalan & selesai pengawasan, serta 72 orang meninggal. Tersedia 269 ruang isolasi bagi pasien virus corona, secara demikian hanya tersisa 60 ruang di tengah ancaman jumlah peristiwa yang lebih besar dalam kaum waktu ke depan. [ns/ab]

depresseddingof9e640ac

https://urlking.info