Pengkritik: Burung Migran Masih Terancam

Hari Migrasi Burung Sedunia atau yang biasa bertambah dikenal dengan World Migratory Bird Day diperingati dua kali dalam setahun tepatnya pada bulan Mei & Oktober. Beberapa wilayah di Indonesia menjadi tempat persinggahan burung migran tersebut. Namun, pada saat tersebut pula ancaman menghantui burung-burung migran.

Pengamat burung air dari Yayasan Lahan Basah, Yus Rusila Noor mengatakan burung tirta dan burung-burung jenis lain yang sedang bermigrasi masih menghadapi sebesar ancaman ketika menjadikan suatu wilayah sebagai tempat persinggahan. Perubahan penyediaan adalah satu di antaranya.

“Ini juga dikaitkan secara hasil penelitian secara global dengan paling mengancam adalah perubahan peruntukan dalam arti tadinya di danau lahan basah, hamparan lumpur tapi diubah menjadi perumahan, tambak dan lainnya. Itu ancaman utama jadi burung-burung tidak ada lokasi, ” kata Yus, Senin (11/5).


Burung hantu di dalam sangkar dijual di pasar rumor di Tangerang, 17 September 2017. (Foto: dok).

Burung migran serupa masih menjadi buruan utama pribadi. Burung-burung tersebut kerap dimanfaatkan pribadi untuk menambah pundi-pundi rupiah lewat perdagangan dagingnya. Contohnya di beberapa wilayah di Indonesia seperti Cirebon, dan Indramayu masih kerap terlihat burung-burung migran yang berubah menjelma kudapan atau santapan manusia.

“Itu masih menjadi ancaman, dan juga polusi semakin penuh mengancam burung. Polusi tidak hanya pupuk pestisida tapi naganaganya polusi cahaya karena burung migran terbiasa untuk tinggal di lokasi yang dikenalinya. Kalau kemudian yang tadinya lokasinya gelap terisolir, tapi menjadi tambak terang benderang akibat lampu. Itu akan mengacaukan navigasi itu, ” ucap Yus.

“Navigasi mereka akan kacau & burung-burung itu akan menghindar lantaran tempat tersebut. Sementara burung-burung migran belum tahu lokasi lainnya. Tersebut yang akan mengganggu burung-burung migran, ” tambahnya.


Pengamat burung, Yus Rusila Noor zaman mengamati burung migran di lengah satu pantai di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. (Dokumen pribadi).

Bertepatan dengan Hari Migrasi Burung Sedunia, Yus mengajak masyarakat untuk berbagi ruang dan tempat dengan burung-burung migran. Ia juga mengimbau pada pemerintah untuk mempertimbangkan burung migran dalam pembangunan di Indonesia.

“Mari bersama-sama kita mencintai burung air, bukan hanya tidak secara langsung tapi juga menyimpan tempat mereka mencari makan. Hanya waktu tertentu mereka datang serta kemudian mencari makan. Nah tersebut waktu kritis buat burung-burung migran. Saya juga mengajak mahasiswa & pemuda untuk mengamati burung karena itu menyenangkan, ” ujarnya.

Terkait dengan Hari Migrasi Burung Sedunia, Yus menuturkan setiap tahunnya perayaan hari itu memboyong tema yang berbeda. Sementara 2006 bertema “Flu Burung”, pada 2020 bertema “Burung Sebagai Penghubung Dunia Kita”.

“Pada tahun 2020 temanya adalah terkait Birds Connect Our World dalam pengertian itu sebenarnya benar-benar burung migran itu menghubungkan mereka yang sedang berharta di Rusia, dan Korea, Indonesia, di pertengahan sampai ke negara-negara Pasifik seperti Australia, dan Selandia Baru, ” tuturnya.


Ratusan burung memadati pantai Agua Dulce di Lima, Peru, yang biasanya ramai pengunjung, Selasa, 24 Maret 2020.

Negara-negara yang disebutkan Yus merupakan jalur terbang burung-burung yang bermigrasi. Yus menjelaskan, burung-burung tersebut berkembang biak di wilayah Siberia, hingga Alaska. Kemudian di dalam musim dingin tiba burung-burung tersebut migrasi ke wilayah Asia Timur pada bulan September dan Oktober.

“Turun ke Asia Timur seperti China, Jepang, & Korea. Lalu ke Asia Tenggara dan berakhir di negara-negara Pasifik umumnya di Australia. Pada bulan berikutnya Februari, Maret, hingga April balik lagi ke lokasi prima berbiak. Mereka berbiak di atas (utara) wilayah Siberia turun ke bawah hanya untuk mencari makan tidak kawin. Lalu, balik teristimewa untuk berbiak di wilayah Siberia, ” jelasnya.

Sama burung yang migrasi merupakan macam burung air, burung pemangsa serta burung hutan. Mereka melakukan migrasi dari Siberia, dan Alaska pada saat musim dingin untuk mencari makanan dan tempat ke wilayah dengan iklim tropis.


Ratusan burung air saat melakukan migrasi dan melintasi wilayah Indonesia. (Courtesy: Yayasan Lahan Basah/ Wetlands International Indonesia).

“Kenapa mereka menyelenggarakan itu? Karena di lokasi beranak di Siberia pada musim sejuk itu semua bersalju tidak jadi bisa hidup di sana. Maka buat mereka ini adalah urusan hidup atau mati. Kalau mereka telat akan mati terkubur sebab salju, dan burung-burung itu kudu turun. Tapi kalau mereka dingin juga untuk datang berbiak, burung-burung tidak akan bisa memberikan sasaran untuk anak-anaknya, ” ujar Yus.

Selama musim itu kemudian para peneliti, masyarakat, serta pemerhati burung melakukan pengamatan pada masing-masing negara. Penelitian yang dikerjakan menyangkut jenis, jumlah, dan asal lokasi burung.


Seekor burung migran di sungai Wazzani dekat Khiam, Lebanon selatan, 4 September 2016. (Foto: dok).

“Tapi kalau peneliti yang sudah lulus itu dia memasang cincin serta telemetri. Nah, itu maksudnya yang menghubungkan dunia. Hanya burung-burung serta satwa lain yang bermigrasi yang lain menghubungkan orang di berbagai tempat. Pada saat yang sama melakukan kegiatan serupa meski derajatnya berbeda-beda. Itu filosofinya kenapa tema tersebut yang dipilih pada tahun ini, ” tutur Yus.

Sementara Yus mengucapkan, saat tersebut burung-burung migran tersebut telah meninggalkan wilayah Indonesia, mereka yang sebelumnya terbang dari negara Pasifik bakal menuju tempat burung-burung migran tersebut berbiak di wilayah Siberia.

“Jadi sekarang sudah melewati meski ada beberapa umurnya setahun masih tertinggal di Indonesia serta burung-burung itu mungkin tidak pulih karena belum berkembang biak. Pengamatan terbaik adalah September hingga April. Itu puncaknya pada Desember sampai Januari di lokasi-lokasi tertentu, ” ucapnya.

Di Indonesia sendiri, Sumatra kaya Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Daksina, Jambi dan Lampung merupakan provinsi yang dijadikan persinggahan oleh burung-burung migran. Sementara, di wilayah asing seperti Jawa tepatnya di sepanjang Pantai Utara Jawa, Bali, Nusa Tenggara Timur, Gorontalo, dan Papua, juga menjadi tempat persinggahan burung-burung migran. Jumlah terbesar dalam utama kelompok yang bermigrasi adalah 190. 000 ekor.

Pemimpin Protection of Forest and Fauna (ProFauna) Indonesia, Rosek Nursahid, mengutarakan migrasi burung tidak memberikan dampak secara langsung terhadap lingkungan. Pasalnya, migrasi tersebut merupakan proses wujud alam yang rutin terjadi pada setiap tahun ketika ada perubahan kondisi di negara asal burung-burung itu.

Fenomena alam dari migrasi tersebut bisa dikembangkan menjelma sebuah atraksi untuk wisata tatapan burung.


Burung maleo di Tanjung Binerean, Sulawesi Mengetengahkan. (Iwan Hunowu/Wildlife Conservation Society)

“Seharusnya ketika itu dikelola atau dikembangkan oleh pemerintah pada titik-titik terbatas ya jadi perlintasan migrasi hendak menarik kalau itu menjadi untuk pengamatan burung migrasi. Saya pikir akan punya nilai ekonomi serupa kalau itu dikembangkan, ” cakap Rosek kepada VOA.

Sementara itu, sejauh ini ProFauna belum pernah mendapat laporan perkara burung migrasi yang keberlangsungan hidupnya terancam saat singgah di sepadan wilayah terutama di Indonesia.

“Biasanya spot-spot mereka singgah itu relatif terpencil jadi jarang bersentuhan langsung dengan manusia melainkan pengamat-pengamat burung, ” pungkas Rosek. [aa/ab]

depresseddingof9e640ac

https://urlking.info