Sejak pagebluk virus corona merebak di seluruh dunia, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia perlahan-lahan anjlok. Secara kumulatif sejak Januari hingga Maret, jumlah wisatawan yang datang hanya mencapai 2, 61 juta karakter atau turun drastis 30, 62 persen; dibanding periode yang sebanding tahun lalu yaitu 3, 76 juta orang.

Jika dibandingkan bulan Februari, oleh sebab itu jumlah kedatangan wisatawan turun 45, 50 persen; sementara jika dibandingkan periode yang sama tahun berantakan penurunan tercatat lebih drastis lagi, yaitu 64, 11 persen.

Kerugian dari zona pariwisata diprediksi mencapai Rp 60 triliun.


Tangkapan adang-adang mantan Wakil Menteri Pariwisata, Tujuh Nirwandar saat menggelar diskusi daring, Sabtu (9/5). (Foto: VOA/Yudha Satriawan)

Mantan Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sapta Nirwandar, di dalam diskusi daring bertema “Pariwisata di Era New Normal: Install Ulang Pariwisata Indonesia, ” Sabtu (9/5) tersebut mengatakan pandemi Covid-19 ini menukar tatanan sektor pariwisata.

“Menurut saya sebelum pagebluk Covid-19, pariwisata Indonesia tidak segar. Target 20 juta wisatawan, hanya dapat 16, 1 juta. Selain itu, saat wabah melanda, tambahan terpuruk. Sekarang penggunaan sistem teknologi meningkat, semua pakai online. Gunakan maya, ” katanya.


Ikon Pariwisata Solo, Wisata budaya Karaton Kasunanan Surakarta Hadiningrat tampak lengang, Sabtu (9/5), semua tempat wisata di Solo tutup sementara selama KLB Corona. (Foto: VOA/ Yudha Satriawan)

Yang penting pada saat ini, lanjut Sapta, adalah social safety net , kesadaran pengelola dan pengunjung pada berinteraksi sambil menunggu penemuan vaksin yang tepat. Sanitasi, kesehatan & kebersihan menjadi prioritas.

“Andalan wisata kita ialah budaya, wisata alam, dan MICE [ Meeting, Incentive, Convention, Exhibition- red]. Perlu dilihat yang bisa adaptasi dengan protokol kesehatan tubuh yang mana, misal diving diatur secara mudah, tidak perlu mass atau penuh, ” katanya.

“Nah kalau MICE, sport events , peserta atau penonton tidak ada, berarti harus dicari modus baru agar tetap mampu dilakukan. Inggris, Italia, dan Spanyol melakukan virtual F1 dan membuka latihan sepakbola. Ini memang kedudukan teknologi tetapi orang tidak tenang karena butuh banyak diantara kita bersama dalam jarak berdekatan di lokasi dengan sama, ” papar Sapta.

Bisnis perhotelan, penerbangan, biro perjalanan wisata, dan pengelola wadah wisata kini memilih melakukan penyudahan sementara selama wabah corona. Lebih dari 2. 000 hotel tutup, juga bandara dan pelabuhan. Total kerugian akibat penghentian operasi bandara dan penerbangan yang berujung kebijakan merumahkan pekerja industri pariwisata, sekitar ini sudah mencapai $113 miliar dolar.

Praktisi perhotelan, Adi Satria, dalam perbincangan yang digelar Ikatan Cendekiawan Pariwisata dan Fakultas Pariwisata Universitas Pancasila itu mengungkapkan tiga langkah bisnis perhotelan yang diharapkan dapat menetap selama pandemi corona.

“Bisnis perhotelan kami, selain di Indonesia juga beroperasi di 95 negara dengan jumlah 5. 000 hotel. Impact corona ini sungguh biasa. Kami harus mengubah bisnis model. Selama belum ada vaksin, sulit bagi pariwisata tumbuh serta bertahan. Pengalaman kami bertahun-tahun secara beragam keadaan terorisme, wabah flu burung, SARs, MERS, dan masa ini corona, harus beradaptasi, ” kata Adi.


Kawasan Tugu Yogyakarta, sektor turisme kota ini terhempas wabah virus corona. (Foto: VOA/Nurhadi)

Saat terorisme, kata Adi, pihaknya memperketat protokol keamanan hotel. Peningkatan security, metal detector, dan sebagainya. Ketika wabah SARS dan sejenisnya melanda, pihahknya selalu harus memperketat protokol kesehatan dalam hotel.

Menurutnya, ada tiga cara yang menghasilkan bisnis perhotelannya bertahan. Pertama, membangun 300 ribu pekerja dengan merancang dana sebesar 70 juta euro bagi yang terdampak financial distress. Kedua, bekerjasama dengan rumah sakit menyediakan hotel sebagai tempat karantina sendiri tenaga medis yang menangani corona.

“Pekerja hotel kami tempatkan di bagian yang tidak kontak langsung dengan tenaga medis, misal bagian administrasi, booking online, food and beverages , tentu saja didampingi konsultan medis. Sistem hospitality . Karyawan hotel ada yang kami realokasi job ke supermarket atau resepsionis rumah kecil, ” tambah Adi.

Sedangkan langkah ketiga dengan dilakukannya adalah fokus pada wisatawan domestik karena penerbangan internasional masa ini masih berhenti sementara.


Tangkapan layar Ketua ICPI, Prof Azril, saat menjadi narasumber diskusi daring bertema pariwisata di masa pandemi, Sabtu (9/5). (Foto: VOA/Yudha Satriawan)

Sementara itu, akademisi pariwisata dari Ikatan Cendekiawan Pariwisata Indonesia, Profesor Azril Azahari, mengucapkan pandemi corona ini membuktikan perlunya program studi baru, yang menggabungkan sistem pendidikan perhotelan dan rumah sakit.

“Kebutuhan pokok pariwisata saat ini adalah safety, security dan tambah lagi healthy. Kita serupa harus membuat kurikulum pariwisata setapak lebih maju dengan membuat agenda studi baru. Amerika, Selandia Segar dan Singapura sudah ada prodi khusus tentang hospital [rumah sakit -red]. Hospital yang dikelola seperti hotel, ” katanya.

“Di situ ada orang yang paham medis/pengelolaan panti sakit dan ada yang prinsip pengelolaan perhotelan. Hospitality . Ini menarik sekali. Nusantara belum memanfaatkan ini, banyak hospital, banyak hotel tapi dua-duanya belum sinergi, ” lanjut Azril.

Bagaimana Nasib Desa Wisata?

Pemerintah menargetkan total desa wisata di tahun tersebut mencapai 10 ribu desa. Bagi Sapta Nirwandar, desa wisata menjelma jantung daerah menggerakkan perekonomian bangsa. Menurut Sapta, social safety dan safety health menjadi kunci desa wisata bertahan di masa pandemi.

Branding desa wisata bebas lantaran Covid-19, artinya ada tes medis di desa tersebut menunjukkan tidak ada warganya terjangkit corona. Orang ke sana akan nyaman. Karakter yang datang ke desa wisata itu juga harus dicek. Maka, ada trust antara kedua belah pihak, travellers dan pengelola desa wisata. Ada kesadaran keduanya dalam safety, healthy, dan security, ” katanya.

Sementara bagi praktisi perhotelan, Adi Satria, pengelolaan desa wisata bisa berkaca pada sistem perhotelan dengan melonggarkan sejumlah standar jalan.

“Pengelola dukuh wisata bisa melakukan standar operasional seperti hotel tapi tidak semua point bisa dijalankan. Sesuaikan secara kondisi. Cara menaikkan trust keyakinan pada publik dan branding kuat, ” ujarnya. [ys/em]
Lanjut ke info Data HK